Keluarga Palestina Mengungsi dari Gaza Akibat Serangan Militer Israel
Banyak keluarga Palestina memilih untuk meninggalkan Kota Gaza pada hari Selasa (26/8/2025) setelah serangkaian penembakan yang terjadi semalaman. Penembakan tersebut dilakukan oleh pasukan Israel di wilayah perbatasan, termasuk daerah seperti Sabra, Shejaia, dan Tuffah di sekitar kota Gaza serta Jabalia di utara. Kondisi ini menyebabkan kerusakan parah pada jalan dan rumah-rumah penduduk.
Warga setempat menggambarkan situasi ini sebagai “gempa bumi” yang mereka alami. Ismail, seorang warga berusia 40 tahun, mengatakan bahwa serangan udara dan tank Israel bertujuan untuk menakuti penduduk agar meninggalkan rumah mereka. Ia menyampaikan kekhawatirannya atas keselamatan keluarganya dan masyarakat sekitarnya.
Militer Israel mengklaim bahwa operasi mereka di wilayah tersebut bertujuan untuk mencari senjata dan menghancurkan terowongan yang digunakan oleh kelompok militan. Meskipun ada protes dalam negeri dan kecaman internasional, Israel tetap bersiap meluncurkan serangan baru di Kota Gaza. Wilayah ini disebut sebagai benteng terakhir dari Hamas.
Serangan terbaru yang terjadi di Rumah Sakit Nasser di Jalur Gaza selatan pada hari Senin menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk beberapa wartawan dari berbagai media internasional seperti Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera. Dalam dua hari terakhir, otoritas kesehatan setempat melaporkan setidaknya 34 korban jiwa, dengan 18 di antaranya berada di sekitar Kota Gaza.
Saat ini, sekitar setengah dari dua juta penduduk daerah kantong itu tinggal di Kota Gaza. Banyak dari mereka telah pindah ke arah barat, menuju pusat kota dan sepanjang pantai. Beberapa lainnya juga berpindah lebih jauh ke selatan, menuju wilayah Gaza tengah dan Al-Muwasi dekat Khan Younis.
Serangan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menewaskan juru kamera Hussam al-Masri, seorang kontraktor Reuters, yang sedang berada di dekat posisi penyiaran langsung yang dioperasikan oleh Reuters. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel sangat menyesali apa yang disebutnya sebagai “kecelakaan tragis,” namun militer Israel belum memberikan rincian lebih lanjut tentang insiden tersebut.
Demonstrasi Warga Israel Terhadap Perang di Gaza
Di sisi lain, para demonstran Israel memblokir jalan-jalan di Tel Aviv dan lokasi-lokasi lain di negara tersebut. Mereka membawa foto-foto sandera yang masih ditahan di Gaza dan menuntut agar perang dihentikan. Rencana demonstrasi di luar markas pertahanan Israel pada malam Selasa diperkirakan akan menarik ribuan peserta.
Einav Zangauker, ibu dari sandera Israel Matan Zangauker, menyampaikan pernyataan bersama keluarga sandera lainnya dalam acara yang disebut “Hari Disrupsi.” Ia mengkritik pemerintah Israel karena menjalani perang tanpa tujuan yang jelas selama 690 hari. Ia juga menanyakan bagaimana para sandera, baik yang masih hidup maupun yang gugur, akan dipulangkan dan siapa yang akan memerintah Gaza keesokan harinya.
Perang dimulai pada 7 Oktober 2023 ketika kelompok Hamas melakukan serangan ke Israel selatan. Serangan ini menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera 251 orang. Sejak saat itu, serangan militer Israel terhadap Hamas telah menewaskan sedikitnya 62.000 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, sesuai laporan kementerian kesehatan Gaza.
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza telah membuat hampir seluruh penduduknya mengungsi. Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya konflik yang terjadi di wilayah tersebut dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.